Rabu, 30 Desember 2009

RINDUKU UNTUK MAMA....



AKU

Aku dilahirkan disebuah desa yang sangat terpencil. Dimana mayoritas pekerjaan penduduk disana adalah petani, buruh dan penyadap karet. banyak kebun karet tumbuh subur disana, ladang padi menguning yang siap untuk dipanen. Ada beberapa mobil truk mondar mandir membawa hasil panen dan hasil karet untuk dijual kekota. Kadang kala aku ikut ayahku pergi menjual karet ke kota. Aku sangat senang sekali jika diajak oleh ayahku pergi, karena dijalan nanti aku akan melihat banyak barisan pohon karet berlari-lari secara tertib.

Kelahiranku sangat dinantikan oleh kedua orangtuaku, karena mereka telah menunggu kelahiranku selama 8 tahun. Sehingga saat ahu lahir orangtua dan keluargaku menyambutku dengan penuh suka cita. pertama-tama aku diberi nama NURJANNAH, tapi entah kenapa aku sering sakit. Kedua orangtuaku telah membawaku berobat kemana-mana. Namun aku masih sering sakit juga. Akhirnya ada yang menyarankan orangtuaku agar aku diganti namanya. Setelah melalui ritual khusus akhirnya aku dipilihkan namaku yang sekarang ini.

Seingatku.... ibu ku sering sakit-sakitan,makanya aku sering ditinggal sama ibuku. karena ibuku pergi berobat maka aku diasuh oleh adik ibuku yang biasa iku panggil ete' (bibi). Masih jelas dalam ingatan ku ibuku bila sakit ia selalu tidak bisa tidur karena beliau sering batuk. Dalam hati aku sangat sedih jika aku melihat ibuku sakit, terlebih lagi dalam kandungan ibu ada calon adik yang sudah lama aku nantikan. Karena sebelumnya ibuku beberapakali keguguran, oleh karena itu aku berdoa semoga ibuku sehat dan calon adikku lahir dengan selamat.

Waktu aku masih berumur 5-6 tahun aku masih ingat kalau ayahku suka pulang jika aku sudah tidur. setiap pagi aku selalu melihat ayahku masih tidur. saat aku bertanya, ibu selalu menjawab ' Ayahkan bekerja mencari nafkah untuk aku dan ibu" Jawaban itu selalu membuat aku tenang.

Masa kecil ku selalu aku habiskan untuk bermain bersama ibuku. Dimata ku ibu adalah sosok yang sangat sabar, sabar dalam mengurusku dan sabar menghadapi sikap ayahku yang agak keras. Walaupun beliau menderita penyakit yang akhirnya nanti akan membuat beliau tidak dapat melihat putri-putrinya tumbuh dan berkembang.

ADIKKU LAHIR.......

Malam itu ayah datang membawa mobil lalu menuntun ibu ku kemobil tersebut, dan mengajak aku ikut serta. Aku melihat ibu menangis sambil memegang perutnya yang membesar, dalam hatiku bertanya-tanya 'kami mau kemana ya?' lalu ayah mencoba menenangkan ibu agar selalu beristigfar dan berdoa agar kelahirannya lancar. olala..... ternyata adikku akan lahir, hatiku bersorak gembira walaupun sebenarnya aku sedih melihat ibu terus-terusan menangis.

Setelah sampai di klinik bersalin ayahku segera menuntun ibuku untuk turun dari mobil lalu bertemu dokter langganan ibu. Tak lama kemudian ibuku diperiksa oleh dokter ternyata adikku benar-benar segera akan lahir cuma masih menunggu besok. Jadi kami harus menginap di sebuah hotel yang tak jauh dari klinik tersebut. saat dihotel aku mendengar perbincangan ayah dan ibuku (suka menguping). Ibu berkata" tadi yah, dokter bilang anak kita laki-laki. Ayah menjawab dengan muka berseri-seri sambil mengelus pert ibu " ya, semoga saja laki-laki. karna ayah lihat, kamu hamilnya beratan ini dari pada hamil kakak( aku ).Setelah itu aku tak mendengar lagi apa percakapan ayah dan ibuku karena aku larut dalam mimpi.......
( bersambung,,,,,,,)

Selasa, 29 Desember 2009

Aku

Banyak hal yang telah terjadi dalam hidupku.... tak dapat aku jelaskan satu persatu.......
Yang jelas aku memiliki seorang putra yang sangat aku sayangi.....

suamiku....
dia adalah orang yang 8 tahun belakangan ini menemaniku.....
temanku berbagi suka dan duka..Banyak hal yang telah terjadi dengan kami akhir-akhir ini...
memang aku akui...banyak hal perbedaan diantara kami...Tapi dibalik perbedaan ini ada yang membuat kami selalu bersatu.... yaitu......PENGERTIAN......akumengerti kekurangannya begitupun sebaliknya.

ya....robbi.... aku selalu berharap kami bisa bertahan......amin....

Ketika Memasuki Area Baru


BismiLLahirrohmanirrohiiimmm. . . . . . . . . .